Apa Tujuan-tujuan Dari Keberadaan Art Gallery?

Apa Tujuan-tujuan Dari Keberadaan Art Gallery? – Pada latar belakang sebuah karya seni yang tergantung di dinding rumah, ada rute, ada sebuah cerita. Sebuah jalan yang berawal dari saat seniman menciptakan membaca peristiwa, mengimajinasikannya, menuangkannya lewat medium, menyelesaikannya bertahun-tahun, hingga akhirnya kurator suatu galeri memilihnya untuk dipamerkan dan menunjukkannya kepada publik dengan bandrol harga. Biasanya, cukup murah, namun lain kali bisa benar-benar mahal, tergantung pencapaian tertentu.

Peran kurator seni memang sangat penting, karena penilaiannya adalah apa yang akan menentukan seniman dan karya yang bisa jadi bagian dari eksibisi. Ada berbagai jenis galeri, semuanya terbuka untuk umum, tapi tidak ada satupun galeri yang menampilkan senimannya. Seniman menjadi sosok terkucil dari suatu galeri seni. Kadang seniman sudah tidak berada di dunia pun, karyanya tetap di pamerkan, diekploitasi, sedemikian rupa. Jika sang seniman tidak memiliki keluarga yang bisa menuntut royalti, ada kalanya keluarga seniman tidak berdaya karena karya tersebut dijual lepas oleh sang seniman.

Secara umum, alasan utama orang untuk membeli lukisan di galeri memang hanyalah estetika, tetapi ada juga sisi bisa kelam, bisa cerah, dari investasinya. Dalam hal ini, mereka membeli dan memilih suatu karya oleh seniman potensial, dengan kesadaran bahwa suatu saat kelak harganya menjadi tinggi. Lambat laun ini akan menggerakan pasar seni kepada momentum dan level selanjutnya, yakni spekulasi harga serta investasi seni. Para kolektor membantu para kurator menambah daya magis suatu harga seni, menambahi mitos-mitos di balik pelukisnya, sehingga suatu karya seni akan bernilai tinggi.

Jika galeri-galeri seni tidak bertujuan untuk kepentingan terbaik para seniman? Lalu mengapa seniman tidak pernah kapok memamerkan karya-karya nya lewat galeri? Apa tujuan dari keberadaan galeri seni. Apakah semata untuk dikenal oleh masyarakat umum? Apa untuk menggerakkan karier seniman muda hingga punya nama? Kadang-kadang, karya seorang seniman bisa setingkat dengan karya museum, oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan fungsi galeri benar-benar dipertanyakan.

Namun selalu ada jawaban dari suatu pertanyaan. Keberadaan galeri adalah seperti keberadaan rumah sakit untuk para dokter dan perawat. Mereka berkerja atas dasar kemanusiaan. Suatu karya seni dijual disebarkan, seringkali dihibahkan gratis, adalah demi menggerakkan mesin-mesin humanisme pada manusia. Karya seni adalah karya spiritual, di mana nilainya akan membawa rasa kagum serta emosi dari yang memilikinya, emosi itu membuat seseorang lebih bijak, lebih tenang, lebih teduh, serta mengurangi sifat amarah dalam diri seseorang.

Art Gallery

Walau begitu, ada kalanya kolektor seni malah orang yang tidak bertanggungjawab serta orang kejam sekaligus. Misalkan Herman Goering, marsekal udara NAZI Jerman yang merampok semua karya seni terkenal dari banyak museum. Dia pecinta seni, tapi juga melakukan kekejaman pada sesama manusia, untuk kasus semacam itu sulit dicari koherensinya. Mengapa karya seni tidak bisa melunakkan hati yang kejam? Mungkin karena orang tersebut terlalu kejam.

Galeri juga memperkenalkan nama-nama seniman yang tadinya asing menjadi familiar. Para kurator menasbihkan suatu karya dengan kritik-kritik bagus pada genrenya. Nama-nama seperti Jackson Pollorc, Pablo Piccaso, Salvador Dali Basquiat, Raden Saleh, Monet, Van, Gogh Joaquin Torres-Garcia, Le Corbusier, Manuel Angeles Ortiz, Francisco Bores, bahkan Khalil Gibran sendiri terangkat berkat jasa para kurator yang mengangkat karya mereka kepada publik luas. Lukisan menjadi lebih berharga dari sebelumnya. Dan dihargai tinggi menunjukkan tingkat estetisnya. Semua berkat eksibisi di galleri seni.

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!